JADWAL SHALAT  Subuh 04:35 WIB | Dzuhur 11:47 WIB | Ashar 14:59 WIB | Maghrib 17:49 WIB | Isya 18:54 WIB

SIAPAKAH SEBENARNYA EMPU PRAPANCA ?

Empu Prapanca adalah seorang pujangga sastra Jawa yang hidup pada abad ke-14 pada zaman Majapahit dan kemungkinan selain pujangga juga merupakan mpu yang paling ternama di zamanya. Namanya dikenal oleh semua orang di Nusantara. Hal ini disebabkan karena Mpu Prapanca merupakan penulis kakawin DESA WARNANA atau kini disebut Nagarakretagama, sebuah kitab Jawa Kuna yang sangat terkenal dan tulisanya masih bisa ditemui sampai sekarang. BERSAMBUNG


Minggu, 23 September 2012 17:00 Viddy Ad Daery
SIAPAKAH SEBENARNYA EMPU PRAPANCA ?

 SIAPAKAH SEBENARNYA EMPU PRAPANCA ?

Oleh : Viddy Ad Daery-POL

Wartawan atau budayawan atau pengembara yang ingin melakukan perjalanan untuk tujuan menulis reportase yang menarik, sebaiknya berkaca kepada Empu Prapanca dan Bujangga Manik. Mereka adalah “wartawan purba” yang mengajari prinsip-prinsip jurnalisme yang hebat, yang mencatat secara teliti hampir semua aspek yang ditemui dalam perjalanannya, sehingga ratusan tahun kemudian—di zaman kini—kita dapat dengan jelas merasakan dan memahami apa yang terjadi di zaman dulu, zaman yang dikisahkan oleh dua “jurnalis pioner” itu.

EMPU PRAPANCA

Empu Prapanca adalah seorang pujangga sastra Jawa yang hidup pada abad ke-14 pada zaman Majapahit dan kemungkinan selain pujangga juga merupakan mpu yang paling ternama di zamanya. Namanya dikenal oleh semua orang di Nusantara. Hal ini disebabkan karena Mpu Prapanca merupakan penulis kakawin DESA WARNANA atau kini disebut Nagarakretagama, sebuah kitab Jawa Kuna yang sangat terkenal dan tulisanya masih bisa ditemui sampai sekarang.

Nagarakretagama digubah oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365 Masehi (Tahun 1287 saka). Sewaktu menulis Nagarakretagama, Prapanca masih belum bergelar Mpu karena masih seorang calon Pujangga. Ayahnya adalah Mpu Narendra dan memegang jabatan : Dharmadyaksa ring kasogatan, atau Ketua dalam urusan agama Budha.

Nagarakretagama artinya adalah "Negara dengan tradisi (Agama) yang suci. Tetapi pengarangnya juga menyebutnya Desawarnana, yang berarti penulisan tentang Daerah - daerah.

Mpu Prapaca ketika menulis kakawin ini bekerja pada Raja Rajasanagara alias Hayam Wuruk. Konon menurutnya sendiri ia adalah seorang dharmadhyaksa atau penghulu agama Buddha. Namun hal ini banyak ditentang banyak pakar Sastra Jawa Kuna, seperti Th. Pigeaud dan P.J. Zoetmulder. Mungkin dua sarjana Belanda itu mempunyai agenda tersembunyi.

Sedangkan Prof. Slamet Mulyana tentu percaya bahwa Empu Prapanca yang nama aslinya adalah Dang Acarya Nada Indra, memang pejabat tinggi urusan agama Buddha di Kerajaan Majapahit. Adalah hal yang biasa kalau jabatan itu diwariskan, apalagi zaman dulu...wong zaman sekarang aja masih suka diturunkan secara “KKN” kok.

Namun kita juga jangan memandangnya dari unsur “KKN”nya, namun karena keahlian spesialisasinya. Seorang ayah dalam mengerjakan urusannya,biasanya melibatkan anaknya. Nah,karena si anak sering terlibat dalam urusan pekerjaan ayahnya, maka masuk akal kalau kemudian si anak menjadi ahli dan kapabel dalam mengerjakan urusan ayahnya, karena itu wajar kalau kemudian diwarisi jabatannya.

Prestasi Empu Prapanca yang banyak disebut zaman sekarang adalah kemampuannya mengarang kakawin alias karya sastra, yang ajaibnya—tidak seperti kitab-kitab yang sezaman dengannya yang biasanya berisi ajaran-ajaran agama—karya Prapanca justru berisi laporan perjalanan dan catatan sejarah.

Ya, “Desawarnana” atau “Negarakertagama” adalah laporan yang mencatat perjalanan Prabu Hayam Wuruk beserta rombongan kerajaan Majapahit keliling wilayah Lumajang alias Blambangan sekarang.

Telah tercatat dalam sejarah, kerajaan Majapahit memiliki masa kejayaan sebagai pusat ekonomi dan budaya di seluruh Nusantara mencapai puncaknya dibawah pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Salah satu sumber pengetahuan utama tentang kerajaan Majapahit pada abad ke-14 itu terdapat pada Kakawin Nagarakretagama (Desawarnana) yang ditulis oleh Mpu Prapanca yang ditulis huruf dan dengan bahasa Jawa tengahan alias Bali Kuno dengan topik utamanya adalah kunjungan kerja Raja Hayam Wuruk beserta keluarga dan pejabat tingginya berkeliling wilayah kekuasaanya di bagian timur Jawa pada sekitar  September  - Desember  1359 M.

Mpu Prapanca yang ikut serta dalam rombongan tersebut menulis dengan cukup detail dari setiap kegiatan Sang Raja selama dalam perjalanan tersebut. Berperan seperti seorang jurnalis, maka tak salah jika beliau disebut sebagai jurnalis pertama di Nusantara.

Dalam setiap perjalanan itu, menyinggahi kerajaan vassal (kerajaan kecil  yang mengakui  dan takluk atas kerajaan Majapahit) antara lain Surabaya,Pandakan, Pamotan ( Lamongan-Jombang ), Tuban, Blitar, Sadeng, Lumajang,Wengker, Pajarakan, Banger (Probolinggo) , Jenggala, Mataun, Lasem, Pajang,  Mataram dan lain-lain....pokoknya meliputi Jawa Tengah dan Jawa Timur....  Ataupun daerah pemukiman, tempat yang indah sebagai tempat istirahat seperti ketika singgah di desa Pandanwangi kecamatan Tempeh, antara Lumajang-Jember, disebuah pantai yang dinamakan Bambang. Seluruhnya terdokumentasi dengan baik.

Perjalan yang diceritakan sebagai berikut “ pagi-pagi sekali berangkat menuju Sadeng melalui Kunir (Kunir adalah nama desa  di Lumajang sebelah timur yang berbatasan dengan Jember) dan Basini, menginap beberapa malam menikmati keindahan alam di sekitar Srampwan. Dari Sadeng Raja Hayam Wuruk menuju Kutha Bacok yang terletak dipinggir pantai melihat karang yang terkena ombak dan terpencar seperti hujan. (nag 22: 4-5). Setelah bermalam di muara sungai Bondoyudo (Rabut Lawang) rombongan Raja lurus ketimur menyeberangi sungai Besini disekitar Gumukmas (ada peninggalan Candi Gumukmas/ Candi Boto) diteruskan ke Puger. Diceritakan tentang Gunung Watangan sebelah timur desa Puger, bahwa terdapat nama Sarampwan disekitar gunung tersebut.

Sekitar Kucur yaitu 2 km sebelah barat Gunung Watangan terdapat makam “mbah srampon” (menurut sumber nelayan mbah sirat/ penjaga makam). Mbah Sirat menjelaskan makam ini lebih dikenal dengan nama makam Mbah Tanjung. Menuju timur lagi terdapat nama Kuta Bacok (Watu Ulo) dengan formasi gunung karangnya, dulu dikenal orang salah satu puncaknya adalah Gunung Bacok. (disinyalir sementara sekitar Sabrang dan Grintingan Wuluhan)

Mengenai perjalanan Raja dari Kuta Bacok (watu ulo) sampai dengan Patukangan (Situbondo) memang beberapa daerah sudah tidak bisa teridentifikasi dari penceritaan Prapanca. Mungkin karena daerah-daerah yang ditulis Prapanca kini sudah berganti nama (karena gelombang migrasi orang Madura atau pemberontakan raja-raja kecil ). Beberapa nama yang teridentifikasi di routenya adalah dari Balung , Renes (Wirowongso Ajung) , Pakusari (dulu Pakis Haji : ini juga belum sepenuhnya diyakini sebagaimana yang dimaksud desa dalam pupuh Negarakrtagama), Mayang (menyusuri kali Mayang) menuju Kalisat Sukowono dan Tamanan . Selepas dari sana,  kemudian menuju Pakambangan atau Gambang desa Tlogosari Bondowoso. Prajekan Bondowoso dan menuju  ke Panarukan atau Patokengan (Patukangan).

Sementara beberapa nama desa yang lainya seperti Pakusari (Pakis Haji), Pakembangan                        (Pakambangan), Tangsil (Tamangsil), Jurang Dalem nama-nama ini seperti yang terdapat dalam naskah Negarakrtagama tetapi masih belum memberikan kepastian. Patukangan dapat diidenfikasikan dengan Desa Patokengan, Desa Peleyan Kec. Panarukan Kabupaten Situbondo. Disana terdapat tanah lapang dengan sebutan Kota Bedah, ditemukan pecahan keramik. Orang disana mengenalnya peninggalan Adipoday (masyarakat setempat menyatakan raja ini berasal dari Pulau Sepudi Madura) ayah Joko Tole (menurut masyarakat Madura) , sedang versi penuturan orang Jawa daerah ini terdapat kepala Minak Jinggo. Disana juga terdapat batu besar yang konon kabarnya dipakai sebagai  tambatan perahu ( kini letaknya jauh dari pantai). Konon sungai Sampeyan dulu terkenal begitu besarnya hingga kapal bisa sandar dekat dengan kota Panarukan Situbondo ( periksa catatan sejarah PT Jakarta Lloyd  melakukan pengiriman tembakau dari dermaga Panarukan).

Namun seperti biasa, di Indonesia semua cenderung dirusak, hingga sungai-sungai yang pernah berjasapun tak lepas dari kebodohan manusia Indonesia, semua dirusak dijadikan got pembuangan sampah.

Naskah NEGARAKERTAGAMA ini sekarang sudah diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Dunia.

 

( BERSAMBUNG )

Dibaca 5676 kali

Tinggalkan komentar....
Senin, 27 Januari 2014 11:35 6 Tahun Lalu, Mengenang Wafatnya Jenderal Besar HM. Soeharto
Suasana di Cungkup Argosari tampak hening. Sementara di luar kompleks utama makam, ribuan orang menyaksikan proses pemakaman Pak Harto secara militer itu.
Kamis, 9 Januari 2014 11:00 Pak Harto Di kejutkan Badai Krisis 1997 Dan Tuduhan Menyimpan Harta
Tuduhan tanpa bukti itu dihadapi Pak Harto dengan penuh kesabaran serta ketabahan yang luar biasa. Sikap-sikapnya merupakan cerminan seorang pemimpin yang bijaksana sebagai anak desa yang tidak pernah bermimpi menjadi Presiden.
Rabu, 18 Desember 2013 13:10 Vietnam Pernah Belajar Manajemen Pertanian dari Pak Harto
Upaya itu tidak cukup, lalu ditingkatkannya kualitas petaninya dengan dibentuk kelompok-kelompok tani dalam wadah KUD. Dengan pola manajemen yang sama sektor pertanian dan sektor perkebunan menjadi semakin terangkat.
Senin, 7 Oktober 2013 21:15 Kisah Cinta Fenomenal Pak Harto Dan Ibu Tien
Mereka dipersatukan dalam sebuah pernikahan dengan cara dijodohkan. Tetapi mereka berhasil menumbuhkan cinta dan memupuk cinta mereka selama hampir setengah abad. Dengan falsafah cinta mereka yang berlatar belakang budaya Jawa berhasil mempertahankan perkawinan sampai akhir hayat.
Jumat, 30 Agustus 2013 08:55 Makna Dan Posisi Kesejarahan Incognito Pak Harto
Pak Harto sadar bahwa sebagai seorang pemimpin dari sebuah negara yang baru saja melawati masa-masa penuh guncangan perlu menciptakan keseimbangan dan keharmonisan semesta dari negeri yang dipimpinnya.
Minggu, 18 Agustus 2013 17:20 Tragedi Pembantaian Rawagede Setelah Kemerdekaan
Mulai 19 Agustus 1945, seluruh laskar itu bergabung menjadi BKR (Badan Keamanan Rakyat), markasnya ada di rumah-rumah warga. Ini jadi sorotan pemerintah Hindia Belanda
Sabtu, 15 Juni 2013 21:35 Pembusukan Karakter Presiden Soeharto Dan Penumpang Gelap Reformasi
Salah satu contoh keberhasilan Presiden Soeharto adalah terlaksananya agenda dan tahapan-tahapan kemandirian dan mewujudkan kemandirian serta kedaulatan ekonomi bangsa untuk setara dengan negara maju (tinggal landas) dalam jangka waktu 50 tahun.
Rabu, 5 Juni 2013 12:35 Perjalanan Rahasia Pak Harto
Perang Gerilya di pulau Jawa, pemadaman gerakan separatis dan Operasi Mandala Pembebasan Irian Barat, memberikan pengalaman spiritual dan fisik kepada Pak Harto.
Selasa, 21 Mei 2013 07:40 Dibidang Ekonomi Kerakyatan, Era Presiden Soeharto Diutamakan
Selama pemerintahannya, Presiden Soeharto telah berhasil meletakkan kerangka tinggal landas dengan capaian-capaian bidang ekonomi