JADWAL SHALAT  Subuh 04:35 WIB | Dzuhur 11:47 WIB | Ashar 14:59 WIB | Maghrib 17:49 WIB | Isya 18:54 WIB

Soal Folklor Dan “Desa Venesia Van Lamongan”

Pendapat Suyari yang menyepelekan “faktor keunggulan folklor sebagai bahan sejarah” dan hanya menuntut prasasti sebagai bukti adalah pendapat yang ketinggalan zaman !!!!


Selasa, 4 September 2012 Viddy AD Daery *)

Beberapa tahun yang lalu , saya mengikuti “Seminar Sejarah Malaka”yang diselenggarakan oleh IKSEP ( Institut Kajian Sejarah dan Patriotisme Malaysia ) di Hotel Resort Tanjung Keling, Malaka, Malaysia,yang menyimpulkan bahwa “Kerajaan Malaka diasaskan/didirikan tahun 1262”. Pendapat para sejarawan dan budayawan Malaysia itu mendasarkan hujjah dari tulisan di kitab kuno “Sulalatus Salatin” versi Raja Bungsu.

Pendapat itu sebenarnya kontroversial,dan tidak semua sejarawan-budayawan Malaysia yang saya wawancarai setuju,karena selama ini,mengacu pendapat sejarawan asing dari Portugis, Tome Pires, dinyatakan bahwa Malaka didirikan sekitar 1400 M.Menurut sayapun yang masuk akal adalah yang versi Tome Pires,karena menurut sejarah versi Malaysia yang standar,Malaka didirikan oleh Parameswara, pelarian dari Majapahit karena Perang Paregrek. Dan Perang Paregrek terjadi mulai tahun 1401 , jadi Parameswara pasti lari sekitar tahun 1400-an juga.Jadi,mana mungkin negaranya sudah berdiri pada tahun 1262 ?

Namun meskipun masih kontroversial,tapi hebatnya ialah Ketua Menteri ( atau Gubernur ) Malaka, Datuk Sri Mohd Ali Rustam langsung mendukung,karena tujuannya ialah untuk menaikkan pamor Malaka.Itulah yang dinamakan “nasionalisme kedaerahan”,terserah dinilai positif atau negatif.

IRONIS

TERNYATA,pada saat sekarang ini,di bumi Lamongan,tanah tumpah darah tercinta, juga terjadi KONTROVERSI. Karena pendapat saya yang mengacu kepada folklore Modo,Ngimbang, bahwa “Mahapatih Gajah Mada pemersatu Nusantara yang dikagumi budayawan Malaysia,Brunei,Thailand,Kamboja dan Singapura, adalah lahir di wilayah Mada/Modo yang dulu masuk Kerajaan Pamotan/Kahuripan, anak kerajaan Majapahit,dan kini masuk wilayah Lamongan”.

Ajaibnya,pendapat saya yang “nasionalis” itu disanggah oleh pejabat DisBudpar Lamongan sendiri, yakni Suyari,hanya dengan alasan, bahwa “tidak ada bukti prasastinya,toh Cuma berdasar folklor saja…”

“Masya Allah!!!”saya sangat heran,pertanyaan atas pendapat Suyari yang ironis ialah :

1.Dimana “kebanggaan Nasionalisme Suyari” untuk mengunggulkan pamor Lamongan? Meski dia keturunan “luar Lamongan” ( maaf ),tapi sebagai pejabat kebudayaan Lamongan,seharusnya berfihak ke Lamongan,karena yang menggajinya adalah Pemda Lamongan.

Kenapa justru berfihak ke Teori bahwa Gajah Mada lahir di Malang ? Kalau memang Suyari mendasarkan pada buku “Gajah Mada” karangan Agus Aris Munandar dari UI Jakarta,toh itu juga teori yang berdasar dari penafsiran atas naskah buku kuno “Pararaton” yang kelasnya kalah lengkap dalam hal detail ketimbang  folklor Modo, karena catatan sejarahnya tanpa menyebut soal masa kecil Gajah Mada sama sekali . Jadi Cuma “penafsiran DR.Agus Aris Munandar” atas isi “Pararaton” yang isinya bukan langsung bercerita mengenai Gajah Mada, tetapi mengenai seorang tokoh “yang diduga keras adalah ayah Gajah Mada” lho kan aneh,menduga kok hanya karena persamaan nama pada unsur Gajah,yaitu Gajah Pagon .Padahal nama Gajah itu bukan marga,bukan fam, tetapi sekedar sebutan karena bentuk badan yang tegap dan berjiwa pemberani.Dan pada zaman Majapahit,banyak juga orang atau kesatria bernama Gajah, misalnya Gajah Enggon,Gajah Geneng,Gajah Para dan sebagainya.

Jadi tidak seperti folklor Modo yang isinya langsung mengenai Gajah Mada asli.

Lagipula “Kitab Pararaton” itu sangat tipis, dan gambarannya mengenai Majapahit sangat sederhana dan singkat, sangat kronikal/urut-urutan peristiwa sejarah Cuma didaftar saja semacam pointers-pointers ,tidak deskriptif/teliti dan detail seperti “Negarakertagama”.

Kesimpulannya, mengacu “Kitab Pararaton” thok, sangat tidak memadai untuk mengetahui sejarah Gajah Mada, dibandingkan dengan folklor Modo, malah lebih detail dan deskriptif folklor Modo!!!

2.Dimana kemampuan ilmu budaya Suyari jika dia memang pejabat bidang kebudayaan? Apa dia tidak pernah membaca teori-teori ilmiah soal kebudayaan –terutama dalam hal ini mengenai folklore??

De Graaf dan Pigeaud ,sejarawan Belanda kuno yang sangat dihormati para ilmuwan dan sejarawan modern, pada tulisannya yang diterbitkan pada 1985,menyatakan bahwa “Folklor adalah salah satu sumber sejarah”.

Juga sejarawan-budayawan modern kaliber dunia,seperti Fernand Braudel,Dennys Lombard dan Anthony Reid sepakat bahwa sejarah lokal ( termasuk folklor ) bisa dinyatakan sebagai bahan sejarah total. Sejarah total ialah sejarah dunia yang mempunyai unsur pelengkap sangat detail,yakni disamping sejarah mengenai tokoh-tokoh,juga mengenai gaya hidup rakyat kecil dan pernak-perniknya yang kayaknya sepele seperti kebudayaan lokal,kebiasaan sehari-hari dan sebagainya.

Dan yang paling mutakhir adalah, teori DR.Arysio Santos dan DR.Stephen Oppenheimer yang kini sedang heboh, dua-duanya mengunggulkan folklore sebagai sumber sejarah. Alasannya justru, folklore terhindar dari panas cuaca matahari dan tirisan hujan ratusan tahun, karena folklore justru diceritakan turun temurun ratusan abad !!!!

Jadi,pendapat Suyari yang menyepelekan “faktor keunggulan folklor sebagai bahan sejarah” dan hanya menuntut prasasti sebagai bukti adalah pendapat yang ketinggalan zaman !!!! ( dimuat di RADAR BOJONEGORO Selasa 24 Juli 2012 ), dan tentu akan sangat menggelikan di mata ilmuwan,budayawan dan sejarawan. Lalu apa modal budaya Suyari sebagai pejabat Budpar ? Agaknya di masa depan, memilih pejabat kebudayaan harus berdasar kepada kemampuan ilmu budayanya.

3.Secara logika, batu prasasti yang diunggul-unggulkan Suyari sebagai bukti sejarah itu kan bisa hancur oleh hujan,panas dan angin, bisa dicuri pedagang barang antik,atau dirusak oleh orang bodoh yang tidak faham sejarah,atau malah dirusak orang berideologi ekstrim, juga bisa dihancurkan oleh lawan-lawan politik Gajah Mada,karena Gajah Mada sewaktu tua menjalani masa hidup “anti-klimaks” karena bertentangan dengan penguasa ( Hayam Wuruk ) serta “musuh-lama” yakni Kelompok Ningrat Kediri atau “Keraton Wetan”, dengan meminjam momentum “Kesalahan Gajah Mada di Perang Bubat” yang berlangsung tahun 1357 di pesisir Babat dekat Gunung Pegat sekarang.

Dan memang,menurut keterangan beberapa orang tua,di kawasan Gunung Pegat dulu ada beberapa prasasti dan Candi,Cuma sekarang sudah musnah dihancurkan para pengambil batu gamping. Nah,kenapa Disbudpar Lamongan tidak menyelidiki musnahnya prasasti-prasasti itu? ( Mungkin termasuk Prasasti Pugawat dan Prasasti Puncakwangi ). ( Catatan : Nama Pugawat lama kelamaan bisa berubah menjadi Puwegat lalu Pegat.Itu namanya Teori Toponim atau teori perubahan nama desa. Lalu nama Puncakwangi Cuma bergeser jadi Pucakwangi. Dua-duanya adalah daerah di Gunung Pegat , Babat sekarang… ).

Sebaliknya, keistimewaan folklore adalah didongengkan dari mulut ke mulut secara turun temurun,jadi nilai keabadiannya lebih terjamin ketimbang prasasti atau batu tulis.

4.Secara logika teori jiwa remaja, jika ada anak muda yang berkelahi dengan musuhnya,pasti lari minta tolong ke desanya, karena disana ada banyak kawannya maupun orang tua dan guru silat pelindungnya.

Nah,kalau GAJAH MADA bukan anak Lamongan/Pamotan,tetapi anak Bali atau anak Malang, kenapa tidak lari ke Bali atau ke Malang,ketika menyelamatkan Raja Jayanegara dari pemberontakan Ra Kuti ( 1319 M ), Gajah Mada sebagai Kepala Pengawal Raja yang baru berusia 19 tahun,kok  justru menuju ke arah Badander yang rutenya melewati Pamotan/ Lamongan? Apalagi kalau difahami,bahwa disamping desa Dander Bojonegoro, ada juga desa Bedander di Kabuh,perbatasan Jombang-Lamongan.Maka rutenya 100 % masuk akal.

Mendukung teori ini, ada juga folklore dari daerah Jombang yang menyatakan bahwa rute Pasukan Gajah Mada menyelamatkan Raja Jayanegara adalah lewat wilayah Kabuh Jombang,folklore itu telah diselidiki dan dibukukan oleh budayawan Jombang,bernama Dian Lungayu.Dari situ, maka insya Allah teori saya mempunyai keunggulan lebih, dibanding teori Gajah Mada yang lainnya.

TEORI BARU : LUKREJO

Penelitian Tim Yamasta ( beranggotakan Viddy Ad Daery, Sufyan Al-Jawi dan Drs.Mat Rais di Lamongan Tengah atau wilayah situs Bengawan Jero ), justru menemukan “Situs Dahsyat”, yaitu DESA LUKMAN HAKIM, yang di zaman Orde Baru diubah oleh Pejabat ABRI menjadi “Luk Rejo”, dan kini oleh masyarakat biasa disebut Desa “Ngeluk”.

Desa Luk Rejo diperkirakan oleh Sufyan Al-Jawi didirikan pada tahun-tahun akhir Majapahit atau abad 14-15 M, berdasar temuan Tim Yamasta, yakni batu bata zaman Majapahit dan keramik yang diperkirakan beredar di zaman Majapahit. Beberapa makam panjang juga menunggu diteliti lebih lanjut.

Yang luar biasa adalah topografi Desa “eks Lukman Hakim”. Nama Lukman Hakim untuk ukuran zaman Majaphit tergolong luar biasa, karena mempunyai nama “Islam” ketika kekuasaan ada di tangan rezim Hindu-Budha.

Desa itu—yang terletak di kecamatan Kalitengah Kabupaten Lamongan ( wilayah tengah )—mempunyai bentuk yang ajaib, yakni berupa desa yang dikelilingi parit dan benteng bata, dan hanya mempunyai satu jalan keluar. Hal itu masih bisa dilihat jelas ketika kita menggoggling dengan “teknologi google earth”.

Ketika Tim Yamasta ke lapangan, tampak bekas pertahanan 3 “posko”, yakni posko kanan dan kiri desa dan posko belakang desa. Maka teori yang disimpulkan untuk sementara oleh Tim Yamasta adalah :

1.Desa “Lukman Hakim” adalah DESA PERTAHANAN, dan dibangun oleh para ahli dari Negara-negara Islam ( Irak dan Andalusia ) yang pada abad 14-15 M memang banyak yang lari ke Nusantara karena Negara-negara Islam Asia Tengah sedang diserang pasukan bengis Mongol dan Negara-negara Islam Eropa sedang diserang Pasukan Perang Salib . Apalagi desa itu bernama “Lukman Hakim” yang sangat berwarna Islam. Suasana desa itu di masa lalu, tentu bagaikan “Venesia” karena sampai tahun 80-an sampai 90-an, suasana di Kalitengah masih penuh dengan kanal-kanal air mirip Venesia ( pengalaman masa remaja dan saksi mata Viddy Ad Daery ). Pada waktu itu, orang lebih memilih memakai perahu untuk bepergian ke desa-desa lain, atau ke pasar paling ramai di desa Sunge ( dari kata Sungai—nama ini juga khas Venesia—karena menunjukkan desa air ), karena kanal-kanal atau sungai kecil sangat banyak, lebar dan airnya jernih, dikepung hutan bambu yang rimbun, dan disana-sini ada pohon beringin teduh dan kokoh penjaga bantaran sungai. Hanya saja, semenjak zaman reformasi, kanal-kanal itu ditutup dan diurug, pohon-pohon beringin dan bambu dihabisi, sedang jalan darat justru rusak berat, maka hancurlah “Situs Venesia van Lamongan”.

2.Jangan-jangan desa “Lukman Hakim” adalah desa yang dikunjungi Cheng Ho, karena dicatat oleh Ma Huan ( timnya Cheng Ho ) dalam “Ying Yai Sheng Lan” yang intisarinya adalah :

Ada sebuah dusun “aneh” dekat Surabaya (dinamai Ma Huan “kota baru” ?) letaknya dekat dengan Bengawan Solo, aliran Bengawan Jero (Sungai Purbakala). Dusun ini memiliki pertahanan Parit Andalusia (Parit air yang mengitari dusun, lebarnya 8-10 m, dibentengi dengan pagar hidup pohon bambu). Pintu keluar masuk hanya satu, dan ada 3 (tiga) pos jaga, dibangun dan dihuni oleh 3 (tiga) golongan, yaitu : Muslim Jawa, Cina suku Tang Muslim dan Hindu Budha Jawa.

3.Malah Tim Yamasta membuat teori menarik : pembangunan desa Lukman Hakim itu untuk apa ? Jangan-jangan untuk pelarian Gajah Mada dan keluarganya di masa tuanya. Karena Gajah Mada di masa tuanya mempunyai sangat banyak musuh yang mengincar nyawanya, maka Gajah Mada melarikan diri ke daerah leluhurnya di Lamongan, namun memilih ke arah utara, karena wilayah utara sudah banyak dihuni oleh kaum Islam sejak zaman Airlangga ( buktinya adalah situs Fatiman binti Maimon di Leran, Gresik) yang relatif tidak terlalu jauh dari lokasi desa Lukman Hakim alias Luk Rejo. Apalagi kalau memang benar Gajah Mada di masa tuanya memeluk agama Islam.

4. Teori bahwa Gajah Mada di masa tuanya menyepi di Istananya “Madakaripura” di daerah Pasuruan-Probolinggo sangat tidak masuk akal, karena akan mudah dihabisi musuh-musuhnya,apalagi daerah Pasuruan-Probolinggo ( Lumajang ) justru daerah musuh kelas berat Majapahit, juga musuh Gajah Mada, karena Gajah Madalah yang menyerang dan menundukkan daerah tersebut. Apalagi ada teori bahwa sesungguhnya “Istana Madakaripura” terletak di beberapa tempat, seperti pejabat zaman sekarang yang mempunyai rumah mewah di mana-mana.

5.Setelah Tim Yamasta meneliti situs desa Luk Rejo, maka berbondong-bondong Tim Disbudpar Lamongan, disusul Tim BP 3 Trowulan serta Dinas Budpar Jawa Timur juga meneliti situs tersebut, namun sayang mereka meneliti “Venesia van Lamongan” tersebut ketika sudah hancur lebur. Kenapa tidak memetakan di tahun 80-an atau 90-an ? Kurang pengetahuan apa kurang keperdulian ???

SOAL AIRLANGGA

Suyari mengunggul-unggulkan temuan bahwa Raja Airlangga mempunyai banyak tinggalan prasasti di Lamongan.Tentunya hal itu tidak mengejutkan bagi budayawan.Boleh jadi memang Raja Airlangga mendirikan kerajaannya dengan salah satu ibukotanya di Kahuripan,Lamongan. Tapi bukan berarti lalu temuan mengenai Airlangga harus memustahilkan teori Gajah Mada.Nggak ada sangkut pautnya!!!Di Lamongan memang gudangnya sejarah,karena Lamongan adalah benteng utara kerajaan-kerajaan lama.Hanya saja fihak Disbudpar kurang mampu atau kurang mau mengangkatnya,padahal itu akan mengangkat pamor Lamongan di mata dunia!!!

Dalam kitab-kitab kuno mengenai Sejarah Airlangga disebutkan, ketika Kerajaan Dharmawangsa Teguh,mertua Airlangga dihancurkan Raja Wora-wari,Ngloram,Cepu, pada 1016 M,(--sekitar 300 tahun sebelum Gajah Mada lahir-- ),maka Airlangga bersama isterinya dan pengawal setianya,Narotama, lari minta tolong ke Empu Sedayu atau Ki Buyut Sedayu via sungai Bengawan Solo.

Isterinya dititipkan di Sedayu,lalu Airlangga bersama pengawalnya,Narotama, menjelajah padepokan-padepokan dan karesian di seluruh Lamongan,tapi semua Empu Lamongan merekomendasikan agar Airlangga berguru ke Empu Sakti di lereng gunung Penanggungan.

Jadi, memang banyak wilayah Lamongan yang mempunyai arti penting dalam sejarah,Dan hal itu masuk akal, karena Lamongan merupakan benteng utara Kerajaan-kerajaan besar Jawa timur—mulai Kerajaan Medang di zaman Empu Sindok, sampai Airlangga dan juga Majapahit--yang biasanya berpusat di dekat sungai Brantas dan Gunung Penanggungan ( gunung tersuci di Jawa timur ) karena strukturnya konon mirip Gunung Mahameru di India—gunung tersuci ummat Hindu saat itu.

Jadi Lamongan memang gudangnya sejarah!!!!!!

Desa-desa di Lamongan seperti Patakan,Pamotan,Modo,Kuripan,Beluluk,Baureno,Ngelawak,Kebalan,Kemlagi,

Kelagen,Trenggulun,Sedayu,Paciran,Lopang,Belawi,Gelagah,Candi Tunggal,Badu Wanar,Prijek,Pringgoboyo,Centhini,Truni,Brumbun,Brumbung,Deket,Montok( kini : Montor ),Mantuk ( kini : Mantup ),Celuring,Gumantuk,Latukan,Sendangduwur,Drajat dan sebagainya sangat buanyak, sudah banyak disebut-sebut,mulai di prasasti Airlangga,prasasti Hayam Wuruk,prasasti Brumbung,maupun kitab-kitab kuno seperti “Tantu Panggelaran”, “Negarakertagama” maupun “Babad Tembayat” , “Babad Tanah Jawi” , “Serat Centhini” , “Hikayat Hang Tuah”, “Sejarah Melayu Sulalatus Salatin”, “Hikayat Panji Semirang”, “Naskah Pangeran Wangsakerta” dan bahkan beberapa catatan kuno pengembara Cina maupun Portugis.

*) budayawan asal Lamongan yang kini sedang menyelesaikan novel “Pendekar Sendang Drajat jilid 4 seri : Misteri Gajah Mada Islam”.

Dibaca 1075 kali

Tinggalkan komentar....
Kamis, 21 Agustus 2014 Aplikasi Teologi Menghadapi Globalisasi
Sebagai umat yang senantiasa dituntut untuk berpikir (Ulil albab), sudah seharusnya kaum muslim memahami dan menyadari akan esensi dari arus globalisasi.
Jumat, 15 Agustus 2014 Kemerdekaan, Paradigma Al-Ghalayini
Manusia sebagai Insan yang memiliki kemerdekaan secara kodrati, tentunya mampu keluar dari paradigma yang ditanamkan oleh para penjajah Eropa. Baik secara individual amaupun secara kolektif. Akan tetapi, kemerdekaan Indonesia tentunya memerlukan kerja kolektif untuk merebutnya dari tangan penjajah.
Sabtu, 2 Agustus 2014 Mengembalikan Citra “Matre” Perempuan
Banyak citra perjuangan seorang perempuan kian lama hanya sebagai sebuah formalitas dan kenangan belaka. Ketika muncul paradigma yang mengatakan bahwasanya, patrikal lebih mendominasi dari pada matritikal di kalangan masyarakat.
Jumat, 18 Juli 2014 Perempuan dan Manajemen Nafsu Konsumtif
Sudah menjadi tradisi umat muslim, terutama di Indonesia, bahwa setiap datang Ramadhan, mereka akan banyak berbelanja untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri.Sebut saja, misalnya,dengan membeli pakaian, makanan, atau kebutuhan yang lain yang dianggap perlu.Belum lagi bagi yang punya kebiasaan mudik ke kampung halaman untuk bertemu keluarga, kerabat,dan sanak saudara, tentu biaya yang dikeluarkan menjadi membengkak.
Rabu, 16 Juli 2014 Meraih Lailatulkadar: Sebuah Refleksi
Pertama,al­Qur’an itu diturunkan secara langsung (dalam hal ini kepada kalbu Nabi Muhammad Saw); kedua,diturunkan secara berangsur­angsur selama 23 tahun.Kata “berangsur­angsur”, hemat penulis,layak direnungkan dalam konteks kita sebagai individu muslim. Yakni, sebagaimana diketahui bahwa turunnya al­Qur’an dimaksudkan sebagai petunjuk bagi manusia.
Minggu, 13 Juli 2014 Meredam Konflik Pasca Pilpres
Komisi Pemilihan Umum (KPU) juga harus bekerja ekstra keras dan menghitung hasil pilpres 2014 sesuai dengan kertas suara yang dicoblos dan KPU harus bersikap netral, independen, jangan sampai mudah di intervensi dari kedua kubu pasangan capres-cawapres karena itu akan menodai sistem demokrasi.
Selasa, 8 Juli 2014 Akhlak Berpemilu
Dalam hal demokrasi, prinsip kesetaraan dalam memilih pemimpin menonjol dalam prinsip “one man, one vote, one value”. Suara seorang profesor dan kuli bangunan dihitung sama. Demikian juga dengan suara majikan dan buruhnya. Sehingga, dalam mekanisme kompetitif demokrasi elektoral, dukungan suara menentukan kemenangan atau keterpilihan.
Rabu, 2 Juli 2014 Keberanian Memutus Investasi Rokok
Mulai 24 Juni 2014, berlakulah aturan pencantuman peringatan kesehatan bergambar (pictorial health warning) pada kemasan rokok. Maka kini, kita dapat melihat gambar mengerikan pada bagian atas sisi depan dan belakang seluas 40% dari kemasan: mulai dari gambar kanker tenggorokan, kanker usus, rusaknya jaringan dalam tubuh hingga kesehatan organ tubuh perokok yang terlihat amat menakutkan.
Senin, 30 Juni 2014 Ramadan dan Altruisme
Puasa yang dalam bahasa Arab disebut “saum” atau “siyam” arti dasarnya adalah menahan diri. Baik itu berupa menahan diri dari makan dan minum dari pagi hingga sore, maupun menahan diri dari perbuatan-perbuatan buruk dan tercela. Yang pertama terkait dengan diri sendiri, yang kedua selain terkait dengan diri sendiri juga terkait dengan orang lain di sekitar. Dengan kata lain, yang pertama terkait aspek individual, yang kedua terkait aspek sosial.
Senin, 23 Juni 2014 Pesantren dan Budaya Tulis
Apabila kita mengenal pesantren, bahwasanya pesantren merupakan “Ahli Waris” khazanah intelektual Islam yang secara universal dibukukan. Ini menunjukkan bahawasanya pesantren memilki “budaya tulis” yang menjadi sebuah sandaran dari reproduksi intelektual yang sangat kaya sepanjang sejarah.
Jumat, 13 Juni 2014 Mau Di Bawa Kemana Pemilih Pemula Pilpres 2014
Pemilih pemula merupakan pemilih yang sangat potensial dalam perolehan suara pada Pemilu. Perilaku pemilih pemula memiliki karakteristik yang biasanya masih labil dan pengetahuan politik yang kurang, Kondisi tersebut dikarenakan oleh preferensi yang dijadikan sandaran dalam melakukan pemilihan cenderung tidak stabil atau mudah berubah.
Senin, 9 Juni 2014 Membedah Personalisasi Politik Capres
Politisi tentunya bukan makluk yang suci. Mereka memiliki ambisi dan hasrat yang tidak sepenuhnya bersih. Namun, panggung politik selalu menuntut sosok politisi yang tak ada cela dan bahkan mendekati kesempurnaan, karena publik terlanjur mengharapkan mereka sebagai sosok figur yang luar biasa (extra ordinary people).
Selasa, 3 Juni 2014 Pancasila dan Spirit Islam
Sila pertama ini sangat cocok dengan agama Islam yang mempunyai dasar aqidah. Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan suatu kalimat yang mencerminkan akidah yang kuat untuk membangun bangsa yang berperadaban. Sebab, segala aktivitas pembangunan dan pergaulan negara selalu didasarkan oleh nilai dan norma agama. Manusia tidak bisa lepas dengan sang penciptanya.
Senin, 26 Mei 2014 Mengawal Pilpres 2014 yang Berkualitas
Masyarakat mempunyai kewajiban untuk ikut mengawasi mekanisme pemilu agar berjalan lancar dan sesuai ketentuan, karena dengan mengikuti mekanisme yang benar dan sesuai aturan maka akan dihasilkan pemimpin beradab yang mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa, bukan untuk kepentingan pribadi atau kelompok.
Rabu, 21 Mei 2014 Bangkitkan Nasionalisme di Negeri yang Terlelap
”Di Indonesia tempat kita, Di sana tempat berjuang kita, Di sana harus ditunjukkan keberanian, keperwiraan dan kesatriaan kita, Terutama sekali kecintaan kita pada nusa dan bangsa. Marilah kita bekerja di sana. Di tanah tumpah darah kita”.