JADWAL SHALAT  Subuh 04:35 WIB | Dzuhur 11:47 WIB | Ashar 14:59 WIB | Maghrib 17:49 WIB | Isya 18:54 WIB

Pesantren dan Pembumian Ekonomi Syariah

Keberadaan pesantren memang sangat dibutuhkan dalam menyosialisakan ekonomi syariah di kalangan santri dan masyarakat.


Rabu, 13 Februari 2013 Herman
Pesantren dan Pembumian Ekonomi Syariah

ADA beberapa prediksi dari para pakar ekonomi syariah bahwa ke depan Indonesia
akan menjadi kiblat keuangan syariah dunia.

Prediksi tersebut bukan omong kosong jika kita melihat potensi yang dimiliki bangsa ini.

Menurut Adiwarman A Karim, setidaknya terdapat empat in-dustri syariah di Indonesia yang akan menjadi kiblat dunia, yaitu indus-tri makanan dan minuman halal, indus-tri fesyen, hiburan atau media Islami ser-ta perbankan syariah.

Selain itu, mayoritas penduduk Indone-sia yang beragama Islam juga menjadi fak-tor penting dalam pengembangan keuan-gan syariah ke depan.

Untuk industri per-bankan syariah Indonesia terus mengal-ami peningkatan yang signifikan dari ta-hun ke tahun. Aset bank umum syari-ah (BUS) dan unit usaha syariah (UUS) hingga Oktober 2012 meningkat menjadi Rp174,09 triliun.

Jika aset BUS dan UUS tersebut ditambah dengan aset Bank Per-kreditan Rakyat Syariah (BPRS) sebesar Rp4,46 triliun, maka total aset perbankan syariah per Oktober 2012 mencapai seki-tar Rp179 triliun atau tumbuh sekitar 37 persen dibanding Oktober 2011.

Namun perlu kita sadari juga, untuk menjadi kiblat keuangan syariah dunia tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.

Masih ada beberapa kendala yang perlu dibenahi agar bangsa ini benar-benar mampu menjadi contoh dalam pengembangan ekonomi syariah. 

Salah satu kendala yang masih menjadi penghambat adalah pemahaman publik ten-tang ekonomi syariah masih terbilang minim. Hal ini disebabkan belum maksi-malnya sosialisasi terkait ekonomi syari-ah kepada masyarakat..

Menurut Veithzal Rivai dan Antoni Nizar Usman dalam buku “Islamic Economics and Finance” (2012), sosialisasi yang telah dilakukan kepada masyarakat luas belum dilakukan secara maksimal.

Tanggung jawab kegiatan sosialisasi ini tidak hanya di pundak para pebisnis Islam se-bagai pelaksana operasional sehari-hari, tetapi tanggung jawab semua pihak yang mengaku Islam, baik perorangan, kelompok, maupun instansi, yang meliputi unsur alim ulama, penguasa negara, dan cendikiawan.

Peran pesantren

Masyarakat Indonesia khususnya orang awam harus memperoleh edukasi tentang apa itu ekonomi syariah. Ini sangat penting agar ke depan pengembangan ekonomi yang berdasarkan prinsip syariah benar-benar membumi di tengah masyarakat.

Disinilah peran strategis pesantren dalam rangka menyosialisasikan ekonomi syariah kepada masyarakat luas.

Menurut Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama H Abdul Jamil, jumlah santri pondok pesantren di 33 provinsi di seluruh Indonesia, pada 2011, mencapai 3,65 juta yang terse-bar di 25.000 pondok pesantren.

Jumlah ini merupakan potensi besar yang perlu dikembangkan guna mewujudkan mimpi menjadi kiblat keuangan syariah global.

Banyak hal yang harus digali dari pesantren dalam pengembangan ekonomi syariah. Sebab, di lembaga inilah ter-dapat perpaduan antara teori dan praktik di lapangan.

Di pesantren diajari berbagai disiplin ilmu pengetahuan termasuk pendalaman fikih muamalah. Di samping itu, pesantren memiliki koperasi atau Baitul

Mal Wattanwil (BMT) sebagai aplikasi dari teori yang telah diajarkan kepada santri. Pesantren Sidogiri Jawa Timur mungkin bisa menjadi contoh dalam pembumian ekonomi syariah. Pasalnya, perkembangan BMT di pesantren ini mengalami pertumbuhan signifikan.

Hingga 2010, omzet keseluruhan mencapai Rp1,3 triliun dalam setahun. Cabang-cabang BMT dan Kopontren mencapai 180 unit di seluruh Indonesia.

Bahkan dengan presta-sinya tersebut BMT UGT Sidogiri tahun depan akan didaftarkan menjadi salah satu koperasi syariah yang masuk dalam daftar International Cooperative Alliance (ICA). BMT UGT Sidogiri setidaknya menjadi contoh dalam pengembangan ekonomi syariah di lingkungan pesantren.

HM Hamdan Rasyid (2012) mengatakan pesantren memiliki dua peran strategis.

Pertama, peran pengembangan keilmuan dan sosialisasi ekonomi syariah ke ma-syarakat. Hal ini karena pesantren diakui sebagai lembaga pengkaderan ulama dan dai di masyarakat.

Kedua, peran mewu-judkan praktik riil teori ekonomi syariah dalam aktivitas ekonomi. Peran ini juga sangat strategis, mengingat masyarakat melihat pesantren sebagai contoh dan te-ladan dalam aktivitas sehari-hari.

Keberadaan pesantren memang sangat dibutuhkan dalam menyosialisakan ekonomi syariah di kalangan santri dan masyarakat. Ke depan harus ada terobosan baru agar pengembangan ekonomi syariah di kalangan pesantren tidak stagnan.

Setidaknya ada dua hal yang mesti di-lakukan oleh pesantren dalam mengembangkan ekonomi syariah.

Pertama, mengoptimalkan pembelajaran fikih muamalah. Hal ini penting untuk mencetak santri-santri yang paham akan transaksi yang sesuai syariah, sehingga mere-ka bisa memberi kontribusi khususnya dalam mengatasi persoalan SDM yang
ada di lembaga keuangan syariah.

Kedua, pesantren perlu melakukan training terkait dengan manajemen dan akuntansi
syariah. Oleh kerena itu, pesantren per-lu melakukan kerjasama dengan lemba-ga keuangan lain, seperti bank syariah, BMT, dan BPRS.

Dengan terobosan ini saya yakin pengembangan ekonomi syariah akan lebih membumi, baik di kalangan santri maupun masyarakat sekitar pesantren.

Jika potensi yang dimiliki bangsa ini sudah di berdayakan dengan baik, maka prediksi Indonesia menjadi kiblat keuangan syariah dunia akan segera terwujud.

(Penulis adalah Peneliti FAI UMJ dan Ketua Syariah Economic Institute Jakarta)

Dibaca 1064 kali

Tinggalkan komentar....
Kamis, 21 Agustus 2014 Aplikasi Teologi Menghadapi Globalisasi
Sebagai umat yang senantiasa dituntut untuk berpikir (Ulil albab), sudah seharusnya kaum muslim memahami dan menyadari akan esensi dari arus globalisasi.
Jumat, 15 Agustus 2014 Kemerdekaan, Paradigma Al-Ghalayini
Manusia sebagai Insan yang memiliki kemerdekaan secara kodrati, tentunya mampu keluar dari paradigma yang ditanamkan oleh para penjajah Eropa. Baik secara individual amaupun secara kolektif. Akan tetapi, kemerdekaan Indonesia tentunya memerlukan kerja kolektif untuk merebutnya dari tangan penjajah.
Sabtu, 2 Agustus 2014 Mengembalikan Citra “Matre” Perempuan
Banyak citra perjuangan seorang perempuan kian lama hanya sebagai sebuah formalitas dan kenangan belaka. Ketika muncul paradigma yang mengatakan bahwasanya, patrikal lebih mendominasi dari pada matritikal di kalangan masyarakat.
Jumat, 18 Juli 2014 Perempuan dan Manajemen Nafsu Konsumtif
Sudah menjadi tradisi umat muslim, terutama di Indonesia, bahwa setiap datang Ramadhan, mereka akan banyak berbelanja untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri.Sebut saja, misalnya,dengan membeli pakaian, makanan, atau kebutuhan yang lain yang dianggap perlu.Belum lagi bagi yang punya kebiasaan mudik ke kampung halaman untuk bertemu keluarga, kerabat,dan sanak saudara, tentu biaya yang dikeluarkan menjadi membengkak.
Rabu, 16 Juli 2014 Meraih Lailatulkadar: Sebuah Refleksi
Pertama,al­Qur’an itu diturunkan secara langsung (dalam hal ini kepada kalbu Nabi Muhammad Saw); kedua,diturunkan secara berangsur­angsur selama 23 tahun.Kata “berangsur­angsur”, hemat penulis,layak direnungkan dalam konteks kita sebagai individu muslim. Yakni, sebagaimana diketahui bahwa turunnya al­Qur’an dimaksudkan sebagai petunjuk bagi manusia.
Minggu, 13 Juli 2014 Meredam Konflik Pasca Pilpres
Komisi Pemilihan Umum (KPU) juga harus bekerja ekstra keras dan menghitung hasil pilpres 2014 sesuai dengan kertas suara yang dicoblos dan KPU harus bersikap netral, independen, jangan sampai mudah di intervensi dari kedua kubu pasangan capres-cawapres karena itu akan menodai sistem demokrasi.
Selasa, 8 Juli 2014 Akhlak Berpemilu
Dalam hal demokrasi, prinsip kesetaraan dalam memilih pemimpin menonjol dalam prinsip “one man, one vote, one value”. Suara seorang profesor dan kuli bangunan dihitung sama. Demikian juga dengan suara majikan dan buruhnya. Sehingga, dalam mekanisme kompetitif demokrasi elektoral, dukungan suara menentukan kemenangan atau keterpilihan.
Rabu, 2 Juli 2014 Keberanian Memutus Investasi Rokok
Mulai 24 Juni 2014, berlakulah aturan pencantuman peringatan kesehatan bergambar (pictorial health warning) pada kemasan rokok. Maka kini, kita dapat melihat gambar mengerikan pada bagian atas sisi depan dan belakang seluas 40% dari kemasan: mulai dari gambar kanker tenggorokan, kanker usus, rusaknya jaringan dalam tubuh hingga kesehatan organ tubuh perokok yang terlihat amat menakutkan.
Senin, 30 Juni 2014 Ramadan dan Altruisme
Puasa yang dalam bahasa Arab disebut “saum” atau “siyam” arti dasarnya adalah menahan diri. Baik itu berupa menahan diri dari makan dan minum dari pagi hingga sore, maupun menahan diri dari perbuatan-perbuatan buruk dan tercela. Yang pertama terkait dengan diri sendiri, yang kedua selain terkait dengan diri sendiri juga terkait dengan orang lain di sekitar. Dengan kata lain, yang pertama terkait aspek individual, yang kedua terkait aspek sosial.
Senin, 23 Juni 2014 Pesantren dan Budaya Tulis
Apabila kita mengenal pesantren, bahwasanya pesantren merupakan “Ahli Waris” khazanah intelektual Islam yang secara universal dibukukan. Ini menunjukkan bahawasanya pesantren memilki “budaya tulis” yang menjadi sebuah sandaran dari reproduksi intelektual yang sangat kaya sepanjang sejarah.
Jumat, 13 Juni 2014 Mau Di Bawa Kemana Pemilih Pemula Pilpres 2014
Pemilih pemula merupakan pemilih yang sangat potensial dalam perolehan suara pada Pemilu. Perilaku pemilih pemula memiliki karakteristik yang biasanya masih labil dan pengetahuan politik yang kurang, Kondisi tersebut dikarenakan oleh preferensi yang dijadikan sandaran dalam melakukan pemilihan cenderung tidak stabil atau mudah berubah.
Senin, 9 Juni 2014 Membedah Personalisasi Politik Capres
Politisi tentunya bukan makluk yang suci. Mereka memiliki ambisi dan hasrat yang tidak sepenuhnya bersih. Namun, panggung politik selalu menuntut sosok politisi yang tak ada cela dan bahkan mendekati kesempurnaan, karena publik terlanjur mengharapkan mereka sebagai sosok figur yang luar biasa (extra ordinary people).
Selasa, 3 Juni 2014 Pancasila dan Spirit Islam
Sila pertama ini sangat cocok dengan agama Islam yang mempunyai dasar aqidah. Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan suatu kalimat yang mencerminkan akidah yang kuat untuk membangun bangsa yang berperadaban. Sebab, segala aktivitas pembangunan dan pergaulan negara selalu didasarkan oleh nilai dan norma agama. Manusia tidak bisa lepas dengan sang penciptanya.
Senin, 26 Mei 2014 Mengawal Pilpres 2014 yang Berkualitas
Masyarakat mempunyai kewajiban untuk ikut mengawasi mekanisme pemilu agar berjalan lancar dan sesuai ketentuan, karena dengan mengikuti mekanisme yang benar dan sesuai aturan maka akan dihasilkan pemimpin beradab yang mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa, bukan untuk kepentingan pribadi atau kelompok.
Rabu, 21 Mei 2014 Bangkitkan Nasionalisme di Negeri yang Terlelap
”Di Indonesia tempat kita, Di sana tempat berjuang kita, Di sana harus ditunjukkan keberanian, keperwiraan dan kesatriaan kita, Terutama sekali kecintaan kita pada nusa dan bangsa. Marilah kita bekerja di sana. Di tanah tumpah darah kita”.